Sejarah Organisasi

Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) secara nasional didirikan pada tanggal 6 Juli 1973 dalam Kongres Pustakawan se Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor, 5-7 Juli 1973. Kongres tersebut telah berhasil menyatukan “Asosiasi Perpustakaan Arsip dan dokumentasi” (APADI)  dan “Himpunan Pustakawan Chusus Indonesia” (HPCI) dengan membentuk organisasi pustakawan yang baru, yang bernama Ikatan Pustakawan Indonesia  dengan singkatan IPI. Selanjutnya Perkumpulan Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta (PPDIY) juga turut melebur manjadi bagian IPI (lihat Suharyanto, 2013). IPI sebagai organisasi profesi keberadaannya telah mendapat pengakuan secara nasional, regional, dan internasional. Pemerintah juga sudah menetapkan pustakawan sebagai salah satu jabatan fungsional diantara 114 jabatan fungsional yang ada saat ini. Selama empat puluh tiga tahun berjalan (1973-2015) IPI telah melaksanakan tiga belas kali kongres terakhir kongres ke 13 di laksaakan di Padang Sumatera Barat tanggal 6-9 Oktober 2015 dengan tema ”Pustakawan Garda terdepan Ilmu Pengetahuan”. Kongres IPI ketiga belas ini berhasil memilih kembali Pengurus Pusat IPI periode 2015-2018 yaitu ketua umum Drs.H. Dedy Junaedi dan sekretaris pertama Dr.  Zulfikar Zen. Kongres ke 14 telah dilaksanakan pada tanggal 9-12 Oktober 2018 di Surabaya Jawa Timur terpilih sebagai Ketua Umum periode 2018-2021 adalah Drs. H. T. Syamsul  Bahri. Selain agenda pemilihan Ketua Umum, dalam kongres juga telah merumuskan kembali perubahan AD/ART IPI, dan menentukan program kerja. Setiap kegiatan Kongres dibarengi  dengan kegiatan Seminar Ilmiah Nasional yang membahas isu-isu strategis kepustakawanan di Indonesia.

Sedangkan sejarah kepengurusan Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Bengkulu mulai terbentuk pada tahun 1985 atau 10 tahun setelah berdirinya Ikatan Pustakawan Indonesia secara nasional dengan periodisasi kepengurusan Ikatan Pustakawan Indonesia Bengkulu sejak tahun 1985 ketua dan sekretarisnya yaitu sebagai berikut: Dra. Hadija Bakar- Drs. Yuhardin Seman (tahun 1985-1993), Drs. Darman suwandi-Husni Thamrin, S.Sos   (tahun 1993-1999), Drs. Indra Sofyan Salam- Dra. Nyimas Alia, SE   (tahun 1999-2008), Drs. Lamhir Sinaga- Tuti Ningsih, S.Sos    (tahun 2008-2011), tahun 2011-2014 mengalami kefakuman, akan tetapi belum terpilih pengurus yang baru, sehingga pengurus lama masih diakui dengan memberikan mandat kepada Bapak Husni Thamrin, S.Sos dkk untuk membentuk panitia Musyawarah Daerah (Musda), maka dari hasil Musda tersebut terpilihlah Eko Pranoto, S.Sos – Isran Elnadi, M.Pd  (tahun 2014-2017), selanjutnya Musda pada tahun 2017 terpilih Sutriono, S.IPI.,M.Pd.I dari IAIN Bengkulu sebagai  Ketua dan Tony Hartanto, S.Sos sebagai sekretaris  untuk periode 2017-2020.