Tahun 2020 adalah tahun yang suram, penyebabnya adalah tidak lain karena pandemi Corona Virus disease 2019 (Covid-19), demikian seorang teman membuka tulisan opininya disalah satu harian lokal dengan judul “New Normal dan Senjakala Perpustakaan”. Namun, siapa yang menyangka dengan “kesuraman” tersebut justru dunia kepustakawanan Indonesia mengalami ledakan dan lompatan Informasi yang luar biasa.

Mengapa saya katakan lompatan dan ledakan informasi? Karena saat ini kita bisa mendengar dan menyaksikan begitu banyak informasi melalui watshap grup dari yang bentuknya berupa brosur maupun sekedar tulisan ringan, dari yang sekedar informasi tentang Covid-19 maupun ajakan untuk mengikuti webinar dari berbagai  macam profesi dan lembaga. Mulai dari asosiasi profesi perpustakaan maupun pustakawan. Saking banyak dan seringnya informasi ini masuk, sampai-samapi ada pustakawan yang sampai di kenal pakarnya webinar; baik yang hanya sekedar membagikan brosur acara, sebagai  panitia (host), maupun sebagai narasumber webinar. Walaupun saat ini sudah tidak lagi work for home (WFH) tapi sudah Work For Office (WFO) akan tetapi kebiasan webinar justru saat ini sudah menjadi tradisi baru yang tidak hanya milik dunia pustakawan akan tetapi semua profesi dan pekerjaan melakukannya.

Di era new normal sekarang ini (pasca Covid-19), menjadi narasumber webinar tidak perlu repot pergi kesana dan kemari, akan tetapi cukup di rumah saja atau di tempat kerja saja, seorang pakar bisa menjadi nara sumber di berbagai daerah dan tempat sesuai keinginan penyelenggara.   Sesungguhnya ini adalah lompatan yang luar biasa yang tidak ditemukan sebelum datangnya Covid-19.  Bisa dibayangkan, betapa repot(pontang-panting)nya, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang pakar/narasumber yang harus mengisi seminar dalam satu hari apabila harus datang ke tempat yang berbeda dalam satu hari, misal sesi paginya mengisi di Aceh, lalu kemudian sesi sorenya mengisi di Papua atau di Makasar, sudah bisa dipastikan tidak akan bisa berjalan. Akan tetapi sekali lagi hari ini hal itu sangat bisa dilakukan dan sudah banyak terjadi.

Selain para pakar kepustakawanan yang hari ini bisa dengan mudah berbagai ilmunya melalui webinar, tidak jauh berbeda juga dengan seorang pustakawan yang juga bisa dengan mudahnya menjadi peserta dalam berbagai kegiatan webinar  lebih dari satu kali dalam sehari baik yang berbayar maupun yang free atau gratis, ada yang menawarkan sesi pagi jam 09.00 sd. 12.00 dan ada sesi siang pukul 14.00 s.d 16.00, persis sama dengan habisnya jadwal jam kerja kantor  atau seperti jam tayang  film bioskop 21.

Lompatan-lompatan ini bisa menjadi peluang dan tantangan bagi para pustakawan. Menjadi peluang dan kesempatan emas bagi para pustakawan apabila momentum ini digunakan untuk bisa berupaya meningkatkan (up grade) baik wawasan maupun keahliannya  dalam berbagai bidang  dan disiplin keilmuan yang bisa dikuasai oleh pustakawan dalam menunjang tugas-tugasnya mengelola, melayani dan mengembangkan profesi kepustakawanan.  Sebagai contoh misalnya keahlian menulis  (academic writing), saat ini seorang pustakawan, suka tidak suka, mau tidak mau harus memiliki skil ini. Mengapa pustakawan perlu menulis?

Menurut Murray (2006), sebagaimana dijelaskan Agus Rifai (2020) dalam presentasi webinarnya dia menjelaskan bahwa secara personal belajar menulis atau menjadi penulis merupakan satu perjalanan penting yang akan memberikan pengalaman dan menemukan banyak hal-hal baru. Pendapat ini bisa diartikan bahwa seorang pustakawan yang tidak mau mencoba memulai untuk menulis maka akan selamanya mengatakan bahwa menulis itu sulit dan sulit, oleh karena itu kemampuan menulis harus terus dicoba dan diasah dengan cara menulis, mempublikasikan dan membagikan tulisannya  kepada banyak orang baik melalui media sosial atau sarana lainnya.

Selain akan mendapatkan pengalaman dan hal baru, menulis bagi pustakawan juga merupakan suatu bentuk pertanggungjawabnnya sebagai seorang profesional dia memiliki tanggungjawab atas pekerjaan dan keilmuannya yang dapat dilakukan melalui; pertama, merupakan suatu sarana untuk mengembangkan dan mengkomunikasikan keahlian, keilmuan dan ke ‘alimanya karena sesungguhnya ilmu yang telah diberikan kepadanya tidak boleh disimpan atau disembunyikan untuk sendiri akan tetapi harus disampaikan kepada orang lain. Kedua aturan kerja sebagai pustakawan sebagaimana Peraturan Menteri Pemberdayaan dan Aparatur Negara Nomor 09 tahun 2014 juga menuntut pustakawan agar memenuhi angka kredit dari unsur pengembangan profesi yaitu menulis ilmiah dengan jumlah angka kredit sesuai dengan jenjang kepangkatannya masing-masing. Ketiga, atau terakhir secara otomatis, setelah menulis maka hasilnya adalah angka kredit sebagai pra syarat untuk kenaikan pangkat atau kenaikan jabatan sebagai pejabat fungsional pustakawan.

Menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan apabila menghadapi keadaan ini pustakawan mampu memaksimalkan potensinya dengan berinovasi jangan sampai perpustakaan lumpuh tak berdaya dengan adanya wabah Covid-19 ini akan tetapi harus memikirkan bagaimana pemustaka tetap mendapatkan asupan informasi karena perpustakaan tidak bisa memberikan layanan secara langsung. Yang tidak diharapkan dengan adanya wabah ini adalah seorang pustakawan acuh dan tidak peduli terhadap sirkulasi sistem informasi yang seharusnya tetap didapatkan oleh pemustaka, yaitu dengan cara tetap memberikan layanan  yang terbaik dengan kemampuan dan keahliannya  sehingga pemustaka tetap mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.

Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa tradisi belajar dalam jaringan (online) atau lebih sering disebut webinar yang selama ini tidak terkirakan dan jarang kita lakukan, maka hari ini tradisi belajar tersebut menjadi salah kebutuhan sebagai upaya meningkatkan kompetensi keilmuan seorang pustakawan. Hal ini sebagaimana pendapat Agus Rifai (2020) yang mengatakan bahwa karakteristik  profesional pekerjaan pustakawan adalah bahwa pekerjaanya berdasarkan pada keilmuan yang telah diperolehnya baik di bangku kuliah maupun maupun pada pertemuan-pertemuan atau diskusi ilmiah lainnya.

Akhirnya, sebagai pustakawan mari kita lestarikan dan teruskan tradisi keilmuan yang baik ini dengan cara terus belajar dalam aspek apapun, teruslah menulis dan berkarya untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dengan membaca, sebagaima Tuhanpun berfirman “Bacalah”!.